CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Selasa, 09 April 2013


KENALI DIRIMU SEBELUM KAU KENALI PASANGANMU DI LUAR DIRIMU…

Konsep pengenalan diri dalam agama manapun sebenarnya menjadi sala satu hal mendasar yang harus di pahami dan dijadikan sebagai penghayatan agung… demikian pula dalam ajaran Islam, sebagaimana dinyatakan oleh waliyullah Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali,
“Mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Tuhan, sesuai ungkapan hadis, ‘Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Rabb-nya,’ dan sebagaimana difirmankan Allah Ta’ala,
“Akan Kami perlihatkan ayat-ayat Kami di ufuk ini dan di dalam jiwa-jiwa mereka, hingga jelas bagi mereka bahwa itu adalah al-Haq…” QS Fushilat [41] : 53
Ketahuilah, tak ada yang lebih dekat kepadamu kecuali dirimu sendiri. Jika kau tidak mengetahui dirimu sendiri, bagaimana bisa mengetahui yang lain. Pengetahuanmu tentang dirimu sendiri dari sisi lahiriyah, seperti bentuk muka, badan, anggota tubuh, dan lainnya sama sekali tidak akan mengantarmu untuk mengenal Allah. Sama halnya, pengetahuanmu mengenai karakter fisikal dirimu, seperti bahwa kalau lapar kau makan, kalau sedih kau menangis, dan kalau marah kau menyerang, bukalah kunci menuju pengetahuanmu tentang Allah. Bagaimana bisa kau mencapai kemajuan dalam perjalanan ini jika kau mengandalkan insting hewani serupa itu? Sesungguhnya pengetahuan yang benar tentang diri meliputi beberapa hal berikut:
Siapa aku dan darimana aku datang? Kemana aku akan pergi, apa tujuan kedatangan dan persinggahanku di dunia ini, dan di manakah kebahagiaan sejati dapat ditemukan?
Ketahuilah, ada tiga sifat yang bersemayam di dalam dirimu: hewan, setan dan malaikat. Harus kau temukan, mana di antara ketiganya yang aksidental dan mana yang essensial. Tanpa menyingkap rahasia itu, kau tak akan temukan kebahagiaan sejati.
Pekerjaan hewan hanyalah makan, tidur dan berkelahi. Karena itu, jika engkau hewan, sibukkanlah dirimu dalam aktivitas itu. Setan selalu sibuk mengobarkan kejahatan, tipu daya dan dusta. Jika kau termasuk golongan setan, lakukanlah yang biasa ia kerjakan. Sementara malaikat selalu merenungkan keindahan Tuhan dan sepenuhnya bebas dari sifat hewani, Jika kau punya sifat malaikat, berjuanglah menemukan sifat-sifat asalmu agar kau mengenali dan merenungi Dia Yang Mahatinggi, serta terbebas dari perbudakan syahwat dan amarah.”
Mengenal diri sebagaimana diuraikan tadi oleh Imaam Al-Ghazali merupakan hal mendasar yang harus dipahami oleh setiap manusia… Semakin seseorang mengenal dirinya, akan semakin paham pula sejauh mana kekurangan yang dia harus tafakkuri, dan kelebihan yang patut disyukuri… Dan ketika diri ini menemukan sekian banyak kekurangan, tentu akan semakin sadar dan mawas diri, hingga akhirnya akan tersadarkan pula hikmah dibalik kebutuhan sang lelaki menemukan pasangannya dan sebaliknya, tiada lain demi menemukan penyempurnaan dirinya…
Berikut ini uraian ilmiah bagian dari struktur manusia, sebagaimana diuraikan oleh Saudara Muhammad Sigit Pramudya yang mengambil intisari dari apa yang telah Imam Al-Ghazali dari berbagai sumber:
“Struktur Insan, oleh Imam Al-Ghazali ra dibagi dalam tiga aspek: Jiwa (an-nafs), Ruh dan Jasmani (jism)/jasad.
Jasmani atau jasad manusia terbentuk dari berbagai komponen dan unsur yang sanggup ‘membawa’ dan mempertahankan ruh dan nafsnya, yang kemudian menjadi suatu tubuh berpostur yang memiliki wajah, dua tangan dan kaki, serta bisa tertawa. Unsur-unsur jasmani tersebut adalah unsur yang sama dengan unsur makrokosmos yaitu air, udara, api dan tanah. Hal ini terlihat dari proses penciptaan jasmani Nabi Adam as yang dilukiskan melalui tahapan ath-thiin dan shalshal dimana kedua jenis tanah liat tersebut merupakan hasil dari perubahan empat unsur tanah, air, udara dan api. Bagi anak-cucu Nabi Adam a.s., proses tersebut tidak transparan lagi karena jasmani bani adam terbentuk dalam rahim ibu melalui fase-fase nuthfah, ‘alaqah dan mudhghah. Meski begitu secara hakiki jasmani bani adam tetap berasal dari 4 unsur tersebut dan akan kembali ke bentuk unsur dasar itu.
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan insan dari suatu saripati (berasal) dari tanah (thiin). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami ciptakan jadi segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami ciptakan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami ciptakan menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk (berbentuk) lain. Maha Memberkahi Allah, Sebaik-baiknya Maha Pencipta.” (Al-Mu’minun [23]: 12-14)
“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku menciptakan seorang basyar dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam (shalshal) yang diberi bentuk.” (Al-Hijr [15]: 28)
Jika diperhatikan lebih jauh mekanisme kehidupan yang melibatkan bagian-bagian tubuh, maka akan ditemui persamaan dengan mekanisme serupa yang melibatkan bagian-bagian alam (makrokosmos). Hanya saja untuk memetakan persamaan ini dengan lengkap dan rinci, andai pun kita diberi usia yang cukup panjang sampai berabad-abad, tidak akan tuntas untuk menguraikannya. Oleh karenanya kita diminta untuk berusaha mencoba sendiri meneliti apa yang kita saksikan, tentu maka akan menemukan persamaan makrokosmos dengan mikrokosmos diri kita.
Kemudian adanya ruh membuat manusia mirip dengan hewan karena ruh yang dimaksud di sini adalah ruh yang juga dimiliki oleh hewan, yaitu ruh hewani. Dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah nafakh ruh. Ruh hewani ini adalah sesuatu yang bertempat, sehingga eksistensinya bisa dideteksi oleh ilmu kedokteran. Ia berjalan (mengalir) di seluruh anggota tubuh, pembuluh darah , urat nadi dan syaraf. Kehadirannya di suatu anggota tubuh, membuat bagian tubuh tersebut menjadi hidup. Apakah itu berwujud gerakan, sentuhan, menatap, mendengar, dan sebagainya. Ibaratnya seperti pelita yang beredar menelusuri suatu tempat yang penuh dengan lorong-lorong; tempat tersebut adalah ibarat tubuh. Bagian-bagian tubuh yang diibaratkan dengan lorong-lorong akan hidup ketika cahaya pelita menerangi lorong tersebut. Cahaya pelita itulah ibarat dari ruh hewani yang mengalir dan beredar di seluruh tubuh. Ruh tersebut tidak memberi petunjuk pada pengetahuan. Ia tak lebih daripada perangkat unik yang bisa mematikan badan, dimana misi Rasulullah Saw bukan ditujukan pada ruh tersebut. Ruh inipun bukanlah Ruh Amr yang dimaksud di Al-Israa’ [17]: 85
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ar-Ruh. Katakanlah: Ar-Ruh itu berasal dari Amr Rabbku, dan tidaklah engkau diberi pengetahuan tentang itu melainkan sedikit.”
Sehingga bisa dikatakan bahwa Imam Al-Ghazali meluruskan pemahaman sebagian umat Islam yang menyamakan makna Ar-Ruh dengan Nafakh Ruh (ruh hewani).
Kemudian manusia juga memiliki jiwa (an-nafs) yang merupakan jauhar, yaitu yang berdiri sendiri, tidak berada di tempat manapun dan juga tidak bertempat pada apapun. Jiwa adalah alam sederhana yang tidak terformulasi dari berbagai unsur (materi) sehingga tidak mengalami kehancuran sebagaimana benda materi. Karena itu, kematian bagi manusia sesungguhnya hanyalah
kematian tubuh dimana yang hancur dan terurai kembali ke asalnya adalah tubuh, sedangkan jiwa tidak akan hilang dan tetap eksis, sebagaimana firman-Nya,
“Janganlah engkau mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka, dan mendapatkan rizkinya…” (QS Ali Imran [3]: 169)
Demikian berharga pengenalan kita akan aspek yang melingkupi diri kita ini beserta segala fungsinya. Tatkala seseorang dapat mengenali dirinya, pada dasarnya ia pun akan secara sadar mulai memahami apa yang menjadi tujuan utama dia ditakdirkan oleh Allah Sang Pencipta untuk hadir di muka bumi ini…
Dan pada saat seseorang memahami tujuan hidupnya, maka dia pun akan mulai menghargai peran masing-masing aspek dalam dirinya itu…mana yang seharusnya menjadi pemimpin, dan mana yang harus dipimpin. Bagian mana yang bisa difungsikan untuk mengenal aspek dunia dan indera mana pula yang sebenarnya bisa menangkap hikmah kehidupan serta banyak hal berharga lainnya.
Lantas apa hubungannya pengenalan diri dengan pengenalan pasangan di luar diri kita? Mengenal diri pada dasarnya mengenal pula adanya sebuah hubungan keterpasangan beserta fungsinya masing-masing. Baik ketika ruh berpasangan dengan jiwa, ataupun ketika jiwa berpasangan dengan jasad/jisim. Namun berhubung urusan ruh agak sulit untuk kita bincangkan, maka mari kita mencoba merenungi bagaimana interaksi pasangan yang ada dalam diri ini berupa jiwa dan jasad, layaknya pasangan yang batin dengan yang lahir.
Pasangan jiwa dan jasad laksana pasangan laki-laki dan perempuan pula. Dimana dalam mekanisme ini akan kita pahami siapa yang selayaknya menjadi pemimpin dan siapa yang dipimpin. Jika Alquran menyebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, maka dalam diri kita pun terdapat aspek laki-laki yaitu jiwa yang harus menjadi pemimpin bagi perempuan yaitu aspek jasad.
Jiwa apabila telah suci dan mampu berbuat sesuatu, ia senantiasa terhubung dengan ruh Allah, yang juga terhubung kepada Allah Ta’ala secara langsung. Sedangkan jasad karena terbuat dari alam materi bumi, maka ia senantisa terhubung dan dipengaruhi langsung oleh unsur-unsur bumi. Jiwa memiliki qalb atau hati nurani yang senantiasa dapat membaca kebenaran Ilahi, dapat membaca apa yang paling Allah kehendaki, dan yang Dia ridlai, sedangkan jasad dengan keliaran pikirannya senantiasa sulit memahami sebuah kebenaran hakiki.
Ketika pikiran bekerja, karena berada dalam ruang otak di jasadnya, maka ia pun tidak bisa melepas dari faktor ruang dan waktu, sehingga sangat logis kalau pertimbangan pikiran senantiasa selalu dipengaruhi oleh peran jasad kebumiannya. Nyaman tidaknya, bahagia atau tidaknya selalu diukur oleh kenyamanan dan kebahagian bagi aspek jasadnya saja, dan sangat bisa jadi tidak berhubungan dengan nilai kebenaran dan nilai luhur ajaran agama dalam menilai apa yang Haq dalam pandangannya… hingga akhirnya akan kita kenali pula sekian juta pemikiran yang berbeda berdasarkan jutaan cara pandang, latar belakang kehidupan, tingkat kecerdasan, serta faktor lahiriyah lainnya.
Namun ketika jiwa yang merupakan elemen cahaya yang memiliki derajat sama dengan aspek cahaya malaikat, maka dia akan berpikir dengan apa yang dipikirkan oleh para malaikat ini. Jiwa yang suci, yang tercahayai oleh iman, akan senantiasa terhubung komunikasinya dengan Allah Ta’ala, akan senantiasa cenderung ingin mengabdi dan mengabdi sepanjang hidupnya di dalam kehendak Allah Ta’ala, karena hakekatnya dia telah mengenal Allah. Mengenali betul siapa yang berhak menjadi Tuhan Seru Sekalian Alam yang mengatur setiap kehidupan di dunia dan akhirat ini.
Sebenarnya, konsep pengenalan diri ini sudah dikenal pula di dunia lain terutama dunia barat dan Yunani kuno, sebagaimana diuraikan berikut ini oleh saudara Alfathri Adlin, yang telah termuat di dalam sebuah artikel yang dimuat harian Kompas, 17 November 2007:
“Kearifan kuno ihwal kaitan antara pengetahuan dan pengenalan diri tersebut kini sudah benar-benar terlupakan. Pengetahuan lebih sering dikembangkan bukan untuk mengenal diri manusia sendiri, melainkan untuk mengetahui, atau bahkan mengeksploitasi, segala hal selain diri manusia.
Dalam sebuah film yang ditayangkan oleh satu stasiun televisi swasta diceritakan kisah seorang Ibrahim Al-Haqq dari Turki. Ibrahim mengalami peristiwa yang agak ganjil, yakni melihat seseorang di kejauhan yang selalu berteriak-teriak: “… Di mana engkau…? di mana engkau…?”

Begitu sering orang di kejauhan itu terlihat. Bahkan, semakin hari sosok tersebut semakin terlihat dekat, atau terlihat di sela-sela kerumunan orang. Ibrahim semakin penasaran, hingga ia bertanya kepada sahabatnya: “Siapakah orang gila yang setiap hari selalu berteriak-teriak mencari seseorang itu?”
Akan tetapi, sang sahabat malah balik bertanya: “Orang gila yang mana? Aku tidak melihatnya.” Bagi Ibrahim tetap saja sosok tersebut terlihat, semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya dia pun berhadapan langsung dengan sosok tersebut. Betapa terkejutnya Ibrahim melihat sosok tersebut, yang ternyata adalah dirinya sendiri. Ia memberi banyak wejangan kepada Ibrahim, antara lain sebuah ungkapan, “Fungsi pengetahuan adalah untuk mengenal diri”.
Cerita di atas mengingatkan kita pada sebuah tulisan di pintu masuk kuil di Delphi, Yunani, Gnothi Se Authon (Kenalilah Dirimu Sendiri). Ucapan (kata mutiara) Apollo itu digunakan Socrates untuk mengajari warga Athena mengenali siapa diri mereka yang sejati. Bahwa kehidupan yang tidak ditafakuri ialah kehidupan yang tidak layak dijalani.
Manusia, menurut Socrates, mempunyai “diri yang nyata” yang harus ditemukan dan dikenali oleh dirinya sendiri. Kebahagiaan yang nyata terdapat dalam pengenalan akan diri yang nyata tersebut. Dengan mengenal siapa dirinya, manusia akan mengetahui bagaimana sebaiknya berbuat.
Maka, Socrates pun mengimbau kaum muda untuk bertafakur agar dapat mengenal diri mereka sendiri. Walaupun pengetahuan dapat dipelajari melalui debat dan diskusi, Socrates tetap menekankan bahwa pengetahuan yang nyata mengenai esensi harus dicapai dengan pengenalan diri sendiri.
Demikian tokoh Yunani bernama Socrates memahami konsep pengenalan diri, sebagaimana juga sebenarnya umat Islam pun telah mengenal konsep pengenalan diri itu dengan istilah Alquran suci… membaca kitab diri…
Mari kita tafakkuri ayat agung QS Al-Isra [17]:14 Allah Swt berfirman,
“Bacalah kitabmu, cukuplah bagi jiwamu pada hari ini sebagai penghisab atasmu…”
Membaca kitab diri, membaca siapa diri, membaca ukuran diri, membaca dan mengenali segala potensi diri, diri sebagai jiwa, jiwa yang telah Allah tetapkan di alam azali nya dengan segala ketetapan yang terjaga di lauh mahfudz,.
Membaca diri juga memiliki makna lain adalah membaca tugas diri, tugas sang jiwa yang diamanahi oleh Allah agar dapat menuntun jasadnya. Itulah makna lain bahwa laki-laki sebagai pemimpin bagi perempuan, maka bisa kita maknai, walaupun secara biologis seseorang di katakana perempuan, namun dalam makna lebih luas tadi, ada dalam dirinya –yang bergender perempuan tersebut- sisi kelaki-lakiannya yaitu aspek jiwa nya yang harus berperan sebagai pemimbin bagi aspek perempuan dirinya berupa jasadnya…
Sang Jiwa, atau nafs, sebagai figur laki-laki tentu Allah berikan kemampuan memimpin bagi jasadnya. Di dalam jiwa terdapat inti berupa qalb, yang juga berperan sebagai tempat persinggahan cahaya iman. Dan lewat inti dari sisi kemanusiaannya inilah Allah memberikan petunjuk-petunjuk-Nya. Karena itu, tatkala sang jiwa berhasil dituntun oleh Allah untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan sesuai kehendak-Nya, maka sang hamba ini pun akan memiliki kemampuan pula untuk dapat menuntun jasadnya menggerakan apa yang menjadi keinginan jiwanya…
Jika tidak, maka yang menggerakan adalah murni dari sisi pikirannya, yang berada dalam tataran jasadnya, yang karena ia tersusun dari elemen bumi, maka fitrahnya adalah sangat dipengaruhi oleh dominasi aspek bumi itu sendiri, aspek ruang dan waktu, aspek lahiriyah belaka dan perhitungan untung rugi nya pun berdasarkan apa yan menguntungkan bagi aspek lahiriyahnya belaka pula… Hingga akhirnya akan kita temukan seseorang yang dengan ringannya melakukan keburukan demi keburukan hanya karena hal itu menjadi sebuah perintah logika pikiran jasadiyahnya, sehingga pertimbangan baik dan buruknya pun akan selalu didasarkan atas baik dan buruk menurut pikiran..
Kembali kita kaitkan dengan urusan pasangan di luar diri kita…sebagaimana sang laki-laki harus menjadi pemimpin bagi perempuannya, sehingga dalam aturan syariat agama pun sang laki-laki yang akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya dalam menuntun pasangannya…
Sang laki-laki yang berkewajiban berbuat adil terhadap perempuannya, terhadap pasangannya dalam artian berkewajiban menuntun sang istri menemukan jati dirinya…. Itu wajib dilakukan sebagaimana seharusnya sang jiwa dalam diri masing-masing harus dapat menuntun jasadnya…
Demikianlah uraian tentang keterhubungan antara perjuangan besar kita dalam menemukan pasangan dalam diri dengan cara memperbanyak istighfar meluruskan jalan taubat, hingga kesucian diri diperoleh, maka kelak kita perlu membangun sebuah keyakinan bahwa pada saatnya yang tepat dalam kacamata Allah, nicaya akan Dia Ta’ala hadirkan pasangan yang tepat yang menjadi bagian dari diri kita…
Kiranya jalan pensucian ini menjadi landasan inti kehidupan, landasan inti dasar ajaran agama yang Allah tuntun dalam sejarah peradaban manusia di mana pun juga..sebagaimana Adam a.s. kembali Allah angkat tatkala beliau bertaubat dengan sebesar-besarnya taubat…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar