CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 12 Januari 2013

TAMAN HATI

"Jadilah kalian di dunia ini, seperti seorang asing atau penyeberang jalan." 
(HR Bukhari)

Menarik sekali mengikuti pandangan Ibnu Qayyim al-Jauziyah, seorang 'alim, 
faqih, zahid, tabib nafsani (dokter hati), ketika mensyarahkan nasihat 
Rasulullah s.a.w. yang bermula diberikan kepada sahabat 'Abdullah Ibnu Umar, 
seperti dikutip di atas.

Ibnu Qayyim berkata, "Bagi orang mu'min, rumah sesungguhnya adalah surga 
(jannah), sebab Adam a.s. bermula sebagai penghuni surga dan bakal kembali ke 
surga. Karena itu, seorang mu'min hendaknya tidak menjadikan dunia ini sebagai 
rumah yang sesungguhnya dan hendaknya hidup di dunia ini bagai seorang musafir 
asing. Kita harus berhati-hati dan bersungguh-sungguh menempuh perjalanan safar 
karena harus kembali ke rumah dengan selamat."

Di sinilah letak urgensi kalbu (hati) manusia agar selalu mengawasi keseluruhan 
diri untuk tidak bergeser dalam perjalanan menuju rumah yang sesungguhnya. 
Kalbu yang sehat-selamat akan menjadi garda bagi seseorang dari kemungkinan 
penyimpangan arah perjalanan hidup, bahkan lebih dari itu akan mengantarkan 
kepada kebahagiaan yang hakiki.

"Janganlah Engkau hinakan aku (Ya Allah) pada hari mereka dibangkitkan, yaitu 
hari di mana tidak bermanfaat harta kekayaan maupun anak keturunan kecuali 
orang-orang yang menghadap kepada Allah dengan hati yang selamat-bersih." 
(Asy-Syu'ara : 87 - 89).

Raudhat al-Qulub
Taman bunga adalah tempat bersemainya warna-warni bunga yang enak dipandang dan 
dinikmati, bahkan menjadi buah-buahan yang banyak menfaatnya.

Taman hati artinya taman tempat bersemainya hati manusia menjadi sejuk dan 
bercahaya, tenang dan ceria, bahkan berbuah perilaku yang terhormat dan 
amalan-amalan yang bukan saja berdaya guna untuk dirinya, tetapi juga untuk 
yang lainnya.

Sahabat Nabi 'Abdullah bin Mas'ud berkata, sebagaimana dinukilkan oleh Ibnu 
Qayyim al-Jauziyah dalam kitab al-Fawaid : "Cari hatimu di tiga tempat (taman) 
: Pada saat mendengarkan Qur'an, pada saat berada di majlis-majlis dzikir, dan 
pada saat sedang menyendiri. Kalau kamu tidak mendapatkan hatimu sendiri di 
tiga tempat (taman) itu, maka segera mohonlah kepada Allah Ta'ala hati yang 
lain (yang hidup), karena sesungguhnya ketika itu kamu tidak mempunyai hati 
lagi." (al-Fawaid, hal. 217-218).

Tanpa mengenyampingkan taman-taman yang lain, baik kiranya dikaji dan difahami 
ketiga taman yang disebutkan sahabat Nabi itu, sebagai orang yang sangat 
berkompeten menerjemahkan sosok, keseharian, dan ajaran Nabi Muhammad s.a.w.

1. Membaca dan Menghayati Qur'an
Qur'an adalah petunjuk Allah bagi manusia, yang berlaku abadi dan tidak pernah 
mengalami perubahan sedikitpun. Membaca dan menghayatinya memberikan makna dan 
nilai yang amat besar, antara lain :

a. Sebagai satu bentuk ibadah kepada Allah s.w.t. Qur'an adalah satu kitab yang 
membacanya saja sudah merupakan ibadah, memenuhi perintah Allah s.w.t. 
(al-Muzammil : 1-5). Inilah bentuk apresiasi yang paling elementer terhadap 
Qur'an. Tilawah Qur'an, karenanya, juga menjadi salah satu ciri pokok sebuah 
komunitas muslim. Banyak Hadits Nabi yang mendorong setiap mu'min untuk gemar 
dan sering tilawah Qur'an.

b. Sebagai satu upaya penyucian hati. Qur'an adalah obat hati dari berbagai 
jenis penyakit hati, pembawa rahmat bagi orang beriman (Yunus : 57, al-Isra' : 
82).

c. Sebagai upaya mengokohkan iman. Membaca Qur'an berarti membaca Kalamullah, 
menyebut-nyebut asma Allah dan sifat-Nya, menghayati kebesaran dan 
keagunganNya, yang pada gilirannya semua ini akan bisa memperkokoh iman 
seseorang. (al-Anfal : 2).

d. Sebagai upaya meluruskan pola pikir. Qur'an adalah sebuah kitab yang 
kebenarannya serba pasti. Akal pikiran manusia menjadi baik dan lurus kalau 
selalu dalam bimbingan Qur'an (al-An'am : 115-116, al-Israa' : 9).

e. Sebagai upaya mengenali manhaj (sistem) Allah yang mengatur hidup dan 
kehidupan alam semesta di mana manusia sebagai unsur utamanya, menjadi standar 
baik dan buruk, benar dan salah, halal dan haram (al-Baqarah : 185, an-Nahl : 
89).

Sesungguhnya makna dan nilai di atas telah terangkum dalam sebuah Hadits 
Rasulullah s.a.w. yang menyatakan :

"Sesungguhnya Allah Ta'ala mengangkat derajat sejumlah kaum dengan kitab Qur'an 
ini, dan merendahkan derajat kaum yang lain dengannya pula." (HR Muslim dari 
'Umar bin Khaththab).

2. Majlis-Majlis Dzikir
Taman hati yang lain adalah majlis-majlis dzikir, majlis-majlis ta'lim, di mana 
seseorang berada di tengah kebersamaan jama'ah dan mendapatkan nuansa dan 
semangat taqarrub ilallah. Terlebih lagi jika Qur'anlah yang menjadi hidangan 
utama majlis-majlis itu. Tentang ini Rasulullah s.a.w. bersabda :

"Tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu rumah (masjid) Allah, mereka 
membaca Qur'an dan mempelajarinya, kecuali turun (Allah turunkan) kepada mereka 
sakinah (ketenangan hati) dan bercurahan kepada mereka rahmat (kasih sayang 
Allah) dan para malaikat mengayomi mereka dan Allah menyebutnya termasuk 
orang-orang yang berhak di sisi-Nya." (HR Muslim).

Dalam taman ini, seseorang bisa menghidup-suburkan hatinya melalui berbagai 
media, antara lain :

a. Forum-forum kajian.
b. Bergaul dengan orang-orang saleh.
c. Nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
d. Tukar-menukar pengalaman kejiwaan dan keagamaan.

3. Saat-saat Menyendiri
Berbeda dengan taman yang kedua di mana seseorang berada di tengah keramaian 
orang, taman yang ketiga ini, justru pada saat seseorang sedang menyendiri, 
terpisah dari orang lain atau sekurangnya jauh dari orang yang dikenal dan 
mengenali dirinya - walaupun tetap di tengah orang banyak. Ketika itu seseorang 
bisa menyuburkan hatinya antara lain dengan (lihat al-Bahru al-Raiq fi az-Zuhdi 
wa al-Raqaiq, al-Syaikh Ahmad al-Syarif) :

a. Dzikir dan Istighfar.
Memperbanyak tasbih, tahmid dan tahlil, mengucapkan berbagai dzikir dan do'a 
yang diwariskan Rasulullah s.a.w. dan para sahabat setianya, serta senantiasa 
memohon ampunan kepada Allah Ta'ala. Rasulullah s.a.w. mencitrakan ummatnya 
dengan dzikrullah ini, manakala bersabda :

"Lisan ummatku senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah." (HR Tirmidzi).

b. Mawas Diri
Melaksanakan mawas diri (introspeksi) atas apa yang sudah dan sedang dilakukan 
dalam konteks perjalanan menuju kampung akhirat (al-Hasyr : 18).

Sikap mu'min yang baik dalam melakukan amal saleh dan merasa sudah terlalu 
besar melakukan perbuatan maksiat dan dosa. Sahabat 'Umar bin Khaththab 
menghasung kaum muslimin untuk selalu melakukan muhasabah ini. 'Umar r.a. 
berkata :

"Hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung dan timbanglah dirimu sebelum 
ditimbang." (HR Bukhari).

c. Salat Malam
Salat malam atau tahajjud bukan salat wajib melainkan salat nafilah/sunnah, 
tetapi ia mempunyai dampak positif yang sangat besar bagi penyucian hati 
seorang mu'min, sehingga memungkinkan dirinya meraih tempat yang terhormat 
dalam pandangan Allah s.w.t. (al-Israa' : 79). Inilah salat sunnah yang tidak 
pernah ditinggalkan oleh Rasulullah s.a.w., bahkan dalam safar. Sampai-sampai 
'Aisyah r.a. isteri Nabi mencari tahu gerangan apa yang mendorong Nabi 
melakukan itu semua.

"Dari 'Aisyah r.a., ia berkata : Adalah Rasulullah s.a.w. yang selalu bangun 
(melakukan salat lail) setiap malam sampai bengkak-bengkak kedua kakinya, maka 
aku bertanya : Kenapa engkau lakukan ini semua ya Rasulullah, sedangkan telah 
diampunkan dosa-dosa engkau yang sudah maupun yang akan datang? Rasulullah 
bersabda, "Apakah aku tidak ingin menjadi hamba Allah yang senantiasa 
bersyukur?" (HR Bukhari).

Masih banyak taman-taman hati yang lain, akan tetapi tiga taman yang disebutkan 
oleh sahabat 'Abdullah bin Mas'ud r.a. di atas cukup menjadi pilihan utama 
seorang mu'min yang ingin senantiasa merawat dan menghidup-suburkan hati, 
sehingga kapanpun ia dipanggil Allah s.w.t. ia akan menghadap dengan qalbin 
salim (hati yang selamat).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar