CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 12 Januari 2013

KETIKA CINTU ITU MEMBUTAKAN HATI


Bismillaahirrahmaanirrahiim
Bila pandangan mata teramat sulit ‘tuk dikendalikan,
Bila dirinya yang didamba ternyata bukan sebaik-baiknya pilihan,
‘Kan kutemukan pujaan baru untuk kubawa ke gerbang pernikahan.
(Fadlan Al-Ikhwani, “Kujemput Jodohku”)

Chaii, begitulah teman-teman di kampus memanggilku. Aku adalah seorang mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat di sebuah Universitas terkemuka di Kalimantan. Selain menjadi mahasiswa, aku juga bekerja sampingan sebagai hamba Allah yang menggeluti dunia da’wah kampus. Walaupun aku menyadari aku masih banyak memiliki keterbatasan pengetahuan tentang islam, tapi aku berusaha keras untuk terus belajar mendalami ajaran Rasulullah untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik di setiap hari-hari yang aku lalui. Aku tinggal terpisah dengan orang tuaku lantaran di kota kelahiranku tidak ada perguruan tinggi sehingga aku harus ke Ibu kota untuk menimba ilmu dan mewujudkan cita-citaku. Studiku telah berjalan kurang lebih sekitar 3 tahun dan kini sudah mulai memasuki tahap skripsi. Seiring berjalannya waktu tanpa terasa usiaku telah menginjak 21 tahun. Sebagian menganggap aku telah dewasa di usiaku saat ini yang memang sudah waktunya aku untuk mencari pasangan hidup menuju ikatan yang lebih serius dengan seorang pria, namun entah mengapa hati ini masih enggan memutuskan untuk menyegerakannya. Bukan bermasalah dengan orang tua yang tidak memberikan izin, justru orang tuaku dan keluarga sangat mendukungku untuk menikah di usia sekarang. Alasannya yang mendasari aku untuk menunda karena aku ingin menyelesaikan amanah kuliahku terlebih dahulu agar nantinya tak menjadi beban ketika aku sudah hidup berumah tangga. Setahuku menikah itu tidak semudah yang dibayangkan, banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk memulai kehidupan baru yang lebih menekankan kepada tanggung jawab pada keluarga. Lagipula aku belum menemukan sang pangeran yang pas di hati hingga saat ini. Alasan lain mungkin berkaitan dengan pengalamanku di masa lalu yang pernah terjadi beberapa waktu lalu, begini ceritanya.
Siapa bilang akhwat tidak memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Walau bagaimanapun akhwat juga manusia, memiliki hati dan perasaan. Hanya saja lebih sensitif dan peka dibandingkan dengan perasaan ikhwan karena begitulah kodrat seorang wanita. Aku juga pernah mengalami fase-fase seperti itu, dimana mulai muncul ketertarikan dengan seorang ikhwan. Berawal dari rasa kagum semata karena sosok ikhwan itu adalah seorang aktifis da’wah yang sudah malang melintang di dunia da’wah kampus. Hingga kemudian rasa itu berlanjut menjadi simpati dan aku menjadi ingin tahu lebih jauh mengenai ikhwan itu. Sejenak perasaan itu dapat dikendalikan, hanya saja entah mengapa aku tak dapat menahan diri, sepertinya yang aku alami sudah hampir melampaui batasan yang telah ditentukan syariat. Aku kalah dengan rayuan syeitan yang mengatasnamakan cinta. Menuruti apa yang dibuatnya indah dalam pikiranku yang sebenarnya adalah dosa dan hanya keindahan sesaat. Aku sudah menyerah kali itu ketika terserang yang namanya virus merah jambu alias VMJ, walaupun awalnya hanya sepihak dari diriku saja.
Berbulan-bulan aku memendamnya, rasanya tak tahan juga apabila perasaan ini tak terbalaskan. Ku coba untuk menarik perhatiannya lewat pertemanan kami di situs jejaring sosial di internet yang sedang marak pada saat itu. Dari situlah komunikasi di antara kami terjalin walaupun tak intensif. Ketika dia sedang online pada fasilitas chating yang ada di situs tersebut itulah kesempatan yang aku gunakan untuk berkomunikasi dengannya. Dia juga merespon, seolah memberikan umpan balik kepadaku lewat perhatiannya yang sempat membuatku kebingungan mengartikannya. Semua berjalan selama hampir 6 bulan dengan komunikasi yang menurut kami aman untuk saling berinteraksi. Jika kami bertemu di kampus, aku hanya bisa menatapnya atau sekedar curi-curi pandang dari kejauhan karena takut ketahuan dengan teman-teman ikhwah yang lain, tetapi jika di chating serasa dunia menjadi milik sendiri karena saat itu aku saja yang merasakan perasaan yang berbeda seperti ada yang bergejolak dalam dada ketika berinteraksi dengannya tanpa aku tahu apa dirinya juga sebenarnya merasakan hal yang sama. Lama kelamaan aku pun tak bisa memendamnya sendirian, akupun akhirnya menceritakan semua yang telah terjadi pada guru ngajiku dan sahabat-sahabatku dekatku. Aku sempat mendapat teguran dari guru mengajiku dan teman-teman sesama akhwat bahwa apa yang aku lakukan sudah masuk dalam kategori kemaksiatan yang sudah melanggar batasan. Mereka ingin aku mengakhiri hubungan itu dan segera bertaubat pada Allah. Bahkan guru ngajiku sampai menawarkanku untuk segera menikah dengan seorang ikhwan agar menghindarikan diriku dari fitnah. Aku tahu itu kesalahanku, tak seharusnya aku lakukan apalagi aku dikenal sebagai seorang akhwat yang pada dasarnya adalah seorang aktifis da’wah yang mengerti akan amal ma’ruf nahi munkar. Sekali lagi aku tegaskan bahwa akhwat itu juga manusia, rasa cinta itu fitrah. Hasrat ingin memiliki pendamping itu pasti ada pada diri setiap insan hanya saja kembali pada waktu dan caranya yang seharusnya dijalani dengan ahsan. Aku menyadari sebenarnya aku telah melakukan kesalahan namun kekhilafan itu ternyata hanya bersifat sementara. Sehari dua hari, ada niat ingin mengakhiri hubungan itu sebelum berlanjut ke hubungan yang dapat mendekatkan diri dengan zina. Namun itu tak bertahan lama, hari-hari selanjutnya mulai kembali tercelup lagi dalam bujuk rayuan syeitan, karena hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan. Komunikasi itu berlanjut lagi, muhasabah yang kemarin seakan-akan hilang dari ingatan layaknya orang yang amnesia. Hati yang tadinya kuat dan tsiqoh menjadi goyah bagai pohon yang di terpa angin kencang. Ketika namanya muncul di dalam kolom chat, tangan terasa gatal jika tidak mengetik tuts-tuts keyboard walaupun hanya sekedar bertanya kabar atau menyapanya dengan salam. Ternyata seiring berjalannya waktu terlintas dipikiranku untuk berharap padanya, apabila suatu saat sudah waktunya untuk kami mencari pasangan akupun menaruh harapan semoga dapat berjodoh dengannya. Saat itu aku layaknya orang buta yang berjalan sendirian seolah-olah memiliki sepasang mata yang dapat difungsikan. Terlalu percaya diri, namun tak memikirkan akibat dari harapan yang sebenarnya belum tentu akan terjadi karena tak menyadari bahwa sesungguhnya rezeki (jodoh) sudah dituliskan-Nya dengan rapi dalam lauh mahfudz-Nya.
Mungkin Allah tidak tega juga melihatku terlalu lama tenggelam dalam kemaksiatan yang menjauhkan hatiku dari pemilik-Nya. Lalu melalui skenario-Nya akhirnya akupun mulai tersadarkan dari kesalahanku dengan cara yang tak terduga. Pada waktu itu aku berjalan-jalan di toko buku, iseng-iseng aku ke deretan rak buku-buku islam. Disitu aku mendapatkan sebuah buku yang berjudul “Kujemput Jodohku” karya Fadlan Al-Ikhwani. Karena penasaran aku membacanya sekilas, sambil membolak-balik halaman demi halaman. Aku terpikir untuk membelinya karena sepertinya isinya cukup menarik. Lagupula aku juga sudah lama tidak menambah koleksi buku di lemariku mengenai islam. Akhirnya aku membelinya, namun sesampai di rumah akupun tak sempat membacanya, ada saja halangan yang membuatku selalu tertunda untuk membacanya hingga tamat seperti tugas kuliah, syuro-syuro, dan kegiatan lain yang menyita waktuku. Tetapi kembali skenario-Nya seolah mengambil alih peranan dalam kehidupanku. Tak lama bebarapa hari setelah aku memiliki buku itu, aku mendengar kabar bahwa ikhwan yang aku puja-puja selama ini ternyata sedang mengincar akhwat lain yang saat itu sedang dekat dengannya, tapi bukan aku. Ada rasa sedih, kecewa, dan marah bercampur menjadi satu. Ternyata dia bukan ikhwan yang baik seperti yang ku pikirkan. Jadi selama ini perhatian yang ia berikan kepadaku hanya iming-imingan belaka. Ataukah mungkin aku yang menyalahartikan perhatian yang telah ia berikan sehingga membuatku terperangkap dalam cinta semu yang membutakan hatiku. Buktinya denganku saja ia tak bisa menjaga hijabnya apalagi dengan akhwat-akhwat lain. Barulah aku menyadari betapa terlambatnya aku berpikir seperti itu. Mungkin kemarin karena terlalu terbuai dalam kenikmatan nafsu sesaat, hingga segala sesuatu yang sebenarnya sudah menyalahi syariat malah dianggap sebagai suatu kebaikan. Itulah cinta yang bisa mematikan hati, yang akhirnya menjadikan diri menolak apa yang seharusnya memang menjadi suatu kebenaran. Setelah merasakan sakitnya hati, seraya akupun baru menyesali apa yang telah aku perbuat sewaktu kemarin ternyata adalah perbuatan yang sia-sia. Tidak bermudharat malah sebaliknya menyisakan luka pada hati sendiri. Ketika patah hati berimbas pada semua hal, makan tidak berselera, rasanya ingin menyendiri saja seharian di kamar dan jika tiba-tiba terbayang wajahnya, teringat akan perhatiannya, mata seolah berat tak sanggup lagi menampung air mata yang ingin tertumpah menyesakkan dada. Syuro menjadi tak bersemangat, mengerjakan tugas kuliah ogah-ogahan, menjadikan diri semakin tidak produktif. Ketika itu aku mulai kebingungan harus bagaimana, semua yang aku kerjakan terasa bosan. Aku ingin mencari sesuatu hal yang dapat menhibur hatiku yang sedang kalut saat itu. Sebenarnya tak berniat ingin membaca buku apapun namun ketika aku membuka lemari buku milikku, buku “Kujemput Jodohku” itu berdiri kokoh tepat paling depan dibarisan koleksi buku-bukuku seolah menawarkan obat untuk menawarkan sakit hati yang sedang aku alami. Dari kejadian itulah pada akhirnya aku mengkhatamkan bacaan buku itu setelah beberapa waktu yang lalu selalu tidak sempat. Setelah membacanya ternyata isinya sangat menggugah hatiku yang sedang terinfeksi penyakit hati karena sang pujaan hati lebih memilih menebarkan pesona mautnya pada akhwat lain. Buku itu seolah jawaban atas kesedihan agar aku menjadi akhwat yang semakin kuat ketika ditempa ujian yang berhubungan dengan perasaan, hati dan cinta. Alhamdulullah, aku sangat bersyukur kepada Allah karena segera menunjukkan padaku sifat asli ikhwan itu sebelum semua berjalan semakin jauh.
Kecewa, itu sudah pasti aku rasakan, namun kekecewaan itu lebih kepada penyesalan dimana cinta yang seharusnya lebih utama ku berikan pada Sang Pemilik Cinta mengapa begitu mudahnya aku letakkan pada orang yang sepenuhnya belum ada ikatan yang halal denganku. Akibat dari rasa cinta yang tak dapat aku kendalikan malah menyengsarakan diriku. Bagaimana rasanya rindu, bagaimana rasanya cemburu, bagaimana rasanya patah hati semuanya membuat sengsara diri ketika hal itu mulai mewarnai cerita dari perjalanan cinta yang ku lalui. Setelah kejadian itu baru terbesit pertanyaan-pertanyaan di hati, apakah aku tidak menyadari bahwa Sang Pemilik Hati selama ini merasa cemburu dengan kelakuanku yang tidak dapat menjaga hatiku untuk-Nya dan untuk orang yang nantinya akan Dia pilihkan untukku? Seenaknya saja aku membaginya untuk orang yang belum tentu nantinya orang akan menjadi pelabuhan terakhir dihatiku. Diriku hanya bisa bermuhasabah dan bertaubat atas apa yang telah aku perbuat karena pada dasarnya manusia selalu menyesali perbuatannya ketika ia telah mendapat ujian dari Rabb-Nya. Dan dari setiap kesalahan yang pernah diperbuat, Allah pasti menginginkan perubahan dari dalam diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Setiap kisah selalu menampilkan penyesalan di akhir perjalanan namun pasti ada hikmah yang terselip dari apa yang sudah di skenariokan-Nya. Ketika niat di hati ingin mengakhiri perbuatan itu cukup kuat, ada saja kerikil-kerikil kecil yang menghalanginya. Melupakan bayang-bayang ikhwan itu saja bagiku tidaklah mudah. Semua butuh waktu dan proses untuk mengembalikannya seperti semula seperti ketika sebelum ada apa-apa diantara kami. Apalagi jika di suatu kesempatan harus terlibat dalam suatu kepanitiaan acara di kampus, mau tidak mau suka tidak suka selalu bertemu. Awalnya terkadang masih terkenang masa lalu tapi, Alhamdulillah berkat perjuangan dan kemauan keras dari dalam diri untuk memperbaiki kelalaian hati disertai dukungan dari sahabat-sahabat tercinta membuatku semakin ceria, mengairahkan kembali semangat untuk menjalankan da’wah dan membuang jauh-jauh perasaan yang sempat mengotori hati di masa lalu.
Belajar dari pengalaman ini, aku tidak ingin hal itu terulang kembali suatu hari nanti. Karena sungguh tidak enak yang namanya patah hati. Kini aku semakin berhati-hati dalam menempatkan hati. Semoga ini bukan sebuah trauma yang berkepanjangan yang membuatku kapok untuk jatuh cinta lagi pada seseorang yang nantinya memang halal untuk ku cintai. Karena bagaimanapun aku hanyalah manusia biasa yang juga memiliki keinginan untuk membangun rumah tangga dalam sebuah ikatan pernikahan. Seperti kata-kata Ustadzah Cici dalam suatu kajian kemuslimahan di kampus yang aku baru-baru ini aku ikuti, beliau berpesan bahwa yang terbaik akan datang pada jalan yang baik dan waktu yang terbaik ‘sesuai syariat’. Jadi apabila dia memang bukan sebaik-baiknya pilihan maka suatu saat nanti pasti akan kutemukan pujaan baru untuk kubawa ke gerbang pernikahan.(chaii)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar