CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 22 Oktober 2012

kisah cinta fatimah tuzzahra' dengan Ali bin abi thalib

Ali Bin Abi Thalib waktu itu ingin melamar Fatimah, putri Nabi Muhammad SAW. Tapi karena dia tidak mempunyai uang untuk membeli mahar, maka ia membatalkan niat itu. Ali segera berhijrah untuk bekerja dan mengumpulkan uang. Pada saat Ali sedang bekerja keras, ia mendengar kabar kalau Abu Bakar as Shiddiq (Khalifah ke-1) ternyata melamar Fatimah. Wah, bagaimana agaknya perasaan Ali, wanita yang sudah dia inginkan dilamar oleh seseorang yang ilmu agamanya lebih hebat dari dia. Tetapi Ali tetap bekerja dengan giat.

Lalu setelah beberapa lama Ali mendengar kabar kalau lamaran Abu Bakar Shiddiq kepada Fatimah ditolak. Ali terpegun dan sedikit bergembira tentunya, kata Ali “waah, saya masih punya kesempatan ”. Setelah mendengar kabar itu, Ali bekerja lebih giat lagi agar cepat mengumpulkan uang dan segera melamar Fatimah. Tapi tak lama setelah itu, Ali mendengar kabar kalau Umar Bin Khatab (Khalifah ke-2) melamar Fatimah. Wah, sekali lagi Ali didahulukan orang lain, bagaimana perasaanya? Tapi tak berapa lama Ali mendengar kalau lamaran Umar bin Khatab ditolak. betapa senangnya Ali, mendengar kabar itu.

Tapi tak lama kesenangan itu kembali pudar Karena terdengar kabar lagi, ternyata Usman bin Affan (Khalifah ke-3) melamar Fatimah. Ini sudah yang ketiga kalinya, kata Ali “Mungkin kali ini diterima. Kalaulah Usman tidak melamar Fatimah secepat ini, Insya Allah tidak lama lagi saya akan melamar Fatimah, tapi apa hendak dikata, adakah mau mengalah".

Dan sekali lagi, tidak berapa lama dari itu, kabar ditolaknya lamaran Usman bin Affan pun terdengar lagi, betapa bahagianya Ali. Semangat Ali untuk melamar Fatimah pun berkobar lagi, dan semangat itu didukung oleh sahabat-sahabat Ali. Kata sahabatnya “pergilah Ali, lamar Fatimah sekarang, tunggu apa lagi?? kamu kan sudah bekerja keras selama ini, kamu juga sudah mengumpulkan harta dan cukup untuk membeli mahar. tunggu apa lagi??? Tunggu yang ke-4 kalinya??? baik cepat!!!”

Dengan segera Ali memeberanikan diri untuk menghadap ke Nabi Muhammad SAW dengan tujuan melamar Fatimah, dan taukah anda??? LAMARANNYA DITERIMA!!!

Oh rupanya ternyata memang dari dulu Fatimah sudah mempunyai perasaan dengan Ali dan menunggu Ali untuk melamarnya. Begitu juga dengan Ali, dari dulu dia juga sudah mempunyai perasaan dengan Fatimah,. Tapi mereka berdua sabar menyembunyikan perasaan itu sampai saatnya tiba, sampai saatnya Ijab Kabul disahkan . Wah..wah.. mereka hebat yaaa (harus kita contohi sahabat-sahabat). Walaupun Ali sudah merasakan kekecewaan 3 kali didahulukan orang lain, akhirnya kekecewaan itu terbayar juga.

Yup, sekali lagi, kata-kata ini pasti akan muncul dalam benak anda “Jodoh memang tidak kemana”

Dari cerita itu lebih memperjelas lagi kan bahwa “Cinta itu mengambil kesempatan atau mempersilakan yang lain”

Cinta adalah hal fitrah yang datangnya dari Allah swt yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang, namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan Cinta yang mengendalikan diri kita, Tetapi diri kita yang mengendalikan Cinta. Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut disekitar kita saat ini. Walaupun bukan tidak ada.. barangkali, kita saja yang tidak mengetahuinya.

Dan inilah kisah dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah yaitu Ali Bin Abi Thalib tentang membingkai perasaan dan bertanggung jawab akan perasaan tersebut. “Bukan janj-janji”

Dan Ali pun menikahi Fatimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan sahabat-sahabatnya tapi Nabi berkeras agar ia membayar bakinya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakar, Umar, Usman dan Fatimah. Dengan keberanian untuk menikah.

Sekarang bukan janji-janji dan nanti-nanti. Ali adalah gentleman sejati., “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan disini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti Ali, ia mempersilakan atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fatimah berkata kepada Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”. Ali terkejut dan berkata,
“Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
 Sambil tersenyum Fatimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Ayahanda yang penyayang terus merenung putrinya dengan pandangan kasih sayang, "Putriku, maukah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kau pinta itu?"
"Tentu sekali ya Rasulullah," jawab Siti Fatimah kegirangan.
Rasulullah SAW bersabda,
"Malaikat Jibril telah mengajariku beberapa kalimat. Setiap kali selesai sembahyang sholat, hendaklah membaca 'Subhanallah' sepuluh kali, 'Alhamdulillah' sepuluh kali dan 'Allahu Akbar' sepuluh kali. Kemudian ketika hendak tidur baca 'Subhanallah', 'Alhamdulillah' dan 'Allahu Akbar' ini sebanyak tiga puluh tiga kali."

Ternyata amalan itu telah memberi kesan kepada Siti Fatimah. Semua kerja rumah dapat dilaksanakan dengan mudah dan sempurna meskipun tanpa pembantu rumah.

Itulah hadiah istimewa dari Allah buat hamba-hamba yang hatinya senantiasa mengingatNya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar